A PIECE OF “DADDY LONG LEGS STORY”(part 1)
aku nyoba bikin cerpen yg terinspirasi dari komik daddy long legs..ada yg tau? kalo blom tau, aku saranin kalian baca.keren!genrenya romance.mellow si…^^
ok..ini dia..
>>>>
Surya membumi. memerahkan tanah basah sisa hujan soe tadi. Sementara anganku melayang pada pesan tadi pagi yang masih bercokol dalam kertas asing di laci mejaku pagi tadi.
‘Untuk aku setahun kemudian,
dariku, dalam waktu yang membeku.
Untuk aku yang memendam rasa ini senidiri. Akankah dunia berjalan sementara hatiku masih tergenggam waktu yang tak jua engalir? Sementara kelu ini masih menggenang. meski aku tak tahu siapa diriku sesudahnya…’
Aku termangu menatap pesan tersebut. Sekali lagi merasa asing akan diriku. membiarkan bulir-bulir air mata menetes begitu saja dari mata sembabku.
Tanah masih menguarkan aroma khas jejak sang hujan. termangu, aku membiarkan waktu membalut suasana dalam nuansa syahdu. Pesan tersebut masih menatapku lekat. Menyenandungkan suasana asing sekaligus akrab yang berpendar-pendar di sudut imajiku.
***
‘Aku memandang langit yang menggantung hujan. Namun, tak ayal merembes menitikkan gerimis pada wajah sang bumi.
Aku memahat sosokmu dalam ruang kosong imajinasiku. Menggoreskannya dalam warna yang mewakilkan kehangatanmu. Tanpa kusadari, hujan dalam harapan kosongku, menetes pelan dari sudut mataku…’
***
“Hah!”
Sontak aku terbangun dari mimpiku. Langit-langit kamarku jadi terasa asing. Jam menunjukkan pukul dua dinihari. Bayangan Sang Purnama masih terpantul sempurna pada wajah sang malam.
‘Siapa cowok dalam mimpiku itu?’
Benakku dipenuhi berbagai pertanyaan yang menyeruak seiring derasnya arus kenangan yang berjejal dalam otakku. Kenangan yang asing, jauh, namun terasa pedih. Entah kenapa, rumah baruku ini membawa suatu nortalgia dari masa yang terasa jauh. Seolah aku mengenalnya. Seolah aku mengalaminya.
Aku putuskan memandang malam. Biar wajah pasi Sang Purnama tersemat dalam galau pikiranku.
***
Aku memandang kosong ke whiteboard. Suara dosenku terasa seperti dengungan-dengungan yang bercampur sengan bisik-bisik mahasiswa di sekitarku. Ah, otakku rasanya kosong melompung.
“Hei, kamu dhea kan?”
Aku tersentak. Tersadar dari “duniaku” an kembali pada dunia nyata.
“Ha? Ha?”
“Hm..kamu Dhea kan?”
Aku cuma mengangguk linglung. Andika…Andika bicara padaku…
Hah?! Andika?
Kontan aku salting. Selama ini, aku hanya mampu mengagumi Andika dari belakang. Setahun penuh. Dan kini ia bicara padaku!
“Oh..hm..iya. Kenapa?”
“Kamu bisa bantu aku?”
“Oh..bantu apa ya?”
“Aku ada proyek. Aku maucari partnet buat bikin..gaya yang unik dengam perpaduan antara realisme dan kubisme. Kamu mau?”
“Ngelukis?”
“Yup”
“Oke! Kapan kita mulai!”
Sedetik kemudian, aku merasa luar biasa malu. Rasanya pertanyaanku terlalu argesif.
“Mungkin sebulan lagi. Kita perlu menyatukan visi. Biar lukisan kita selaras. Kamu kan ahlinya kubisme. Jadi..mihin bantuannya ya!”
Ada rasa hangat yang menjalar di pipiku. Aku tahu, kulit pucatku telah memerah tanpa ampun.
“Dhea..”, ia berdiri dan tampak hendak pergi.
“Hm?”
“Makasih banyak ya..”
Sial. Wajahku benar-benar semerah tomat.
***
Sinar cerah mentari menerobos kaca plexi yang memenuhi satu sisi studio lukisku. Aku menatap ruangan ini dengan takjub. Tergantung belasan lukisan realis yang luar biasa. Obyeknya hanya satu, gadis yang sama. Rasanya mereka benar-benar hidup. Aku dapat merasakan goresan kerinduan si pelukis dalam setiap karyanya.
Rumah ini menakjubkan! Berbagai hal tak terduga ada di sini. Seolah khusus disediaan untukku. Terutama, studio lukis ini. Aku tak tahu betapa beruntungnya nasibku.
Aku menatap kanvas di hadapanku dengan takzim. Sejurus kemudian, larut dalam fantasi, warna-warna dan sapuan kuas yang menghias kehampaan putih di hadapanku.
bersambung…